Chat Gokil!



Ekmmm... ekhmmm.... 

Aku punya chat ringan nan menghibur. :)

a : Siapa wanita paling kuat sedunia?!

b : Eummm sapa yak?! Wonder Woman kali yak. #Asbun

a : Salah!

b : Trus sapa dunk?!

a : Nyonya meneer berdiri sejak tahun 1812

b : Hahahaa.... XD

a : Apa bahasa indianya bumbu dapur?!

b : Eumm... apa yak??? Sambel seketeng. #Asbun lagi

a : Salah!

b : Trus apa dunk?!

a : Tumbar miri jahe.

b : Jahhhh... Hahaha....

a : Ikan apa yang matanya banyak?!

b : Tau! Ikan teri sekilo!

a : Bukan!

b : Hah! ko bukan?!

a : Jawabannya, Ikan teri sekilo setengah!

b : Hah... ngarang lu! :P

a : Stempel apa yang bisa jalan?!

b : Stempel yg ada kakinya.

a : Salah!

b : Apa dunk?!

a : Cap Kaki Tiga!

b : Zzzzzz! =_=a

a : Ada bebek 10 dikali 2 jadi berapa hayo?!

b : Jadi delapan.

a : Salah lagi!

b : Hah! Ko salah?! Itukan tebak-tebakan lama, pasti jawabannya itu!

a : Salah!

b : Trus jawabannya apa dunk?!

a : Eight.

b : Yeee... sama aja dodol!

a : Beda! Soalnya bebek yang ini asalnya dari London. Kalo jawabannya delapan berarti bebeknya dari Garut.

b : Lah lu gak bilang tadi bebeknya asal London.

a : Lah elu juga... kenapa gak nanya! :P

b : Arrrgggghhhhttttt..... >..<

a : Hahahaa....




>> read more..

Angin Hening

Aku sendiri ditengah hujan deras
jauh dari orang-orang terkasihku
sendiri
menyendiri
selalu
setiap hari
terkadang aku bahagia
tapi tak jarang
akupun merasakan kesepian
dikala rasa itu datang
aku hanya bisa menangis
kembali menggelar sejadah
dan terpaku diatasnya
merintih
walau tidak tahu apa yang aku tangisi
menangis
walau tidak tahu apa yang aku sesali
hanya nama ITU yang selalu aku panggil
yang selalu aku sebut dalam setiap nafasku
berharap seketika ada ribuan makhluk yang dapat menemani kesepianku
Ya Allah
temani aku
temani perjuanganku
berikan aku kekuatan untuk bertahan
hanya ENGKAU "temanku"
hanya ENGKAU...





>> read more..

Cerita Roh ~ PART II

_________________________________________________________________________________________________
CERITA ROH PART II

~~~ Angin behembus ~~~
Dingiiin menusuk sum-sum tulang anjing liar yang berjalan di lantai dasar gedung ini.

"Hay malam! Aku kembali datang, duduk di atas gedung ini 
bersamamu. Wahai malam, semoga engkau tidak bosan melihat 
"cantiknya" wajahku."


Malam ini, aku mengalihkan pandanganku kearah kerlipnya kota. Lampu-lampu toko mulai padam satu demi satu, tapi hal itu tidak berlaku bagi Party Home Club. Night Club itu semakin malam cahayanya malah semakin terang. Club malam itu adalah lambang kebobrokan budaya manusia di zaman sekarang ini. Club itu serasa surga bagi orang-orang bodoh yang tidak berfikir akan arti kehidupan yang sebenarnya. 
 "Hidup ini bukanlah Hanya untuk bersenang-senang!" 
Bodoh! Dasar manusia!
Tak lama aku perhatikan, dari club malam itu keluar seorang wanita muda dari pintu belakang. Wanita itu berbaju merah, membawa tas berbulu. Ia begitu Glamour. Wanita itu terlihat seperti sedang mabuk berat sehingga ia tidak bisa berjalan dengan lurus. Dia terus berjalan melangkah tanpa arah. Tak lama kemudian darah merah pekat mengalir melewati paha kanannya. Dia merasakan aliran darah itu di kakinya. Langkahnya terhenti. Ia melihat, lalu mencoba mengambil sample darah itu dengan tangannya. Dia merasa aneh melihat darah pekat itu, namun wajahnya sama sekali tidak merasa kaget. Padahal darah yang keluar terlalu banyak untuk ukuran darah bulanan. Wanita itu malah tertawa! Lalu melanjutkan langkah sempoyongannya, sedangkan darah merah pekat terus saja mengalir dan berceceran di sepanjang jalan yang ia lalui. Wanita itu tertawa terbahak-bahak, dan merasa bahagia melihat darah itu keluar dari rahimnya.

Wanita itu, tiada lain adalah teman karib Maya si kupu-kupu malam. Mungkin darah itu bukanlah darah biasa, tapi darah itu adalah darah dari sebuah janin yang merasa kepanasan karena minuman keras, lalu mati dan mengalir di atas kaki ibunya. Sungguh malang calon anak itu


Di sisi lain, dari kejauhan terdengar suara sirine mobil. Tapi suara sirine itu kini mulai mendekat, mendekat, mendekat dan mendekat lagi. Ternyata suara sirine itu berasal dari sebuah mobil ambulan yang datang dan diikuti oleh beberapa mobil polisi. Setelah aku perhatikan ternyata mereka hendak menuju gedung sebelah, gedung tempat tinggal bocah kecil yang pernah aku tolong waktu itu. Para polisi juga para petugas rumah sakit berbondong-bondong memasuki gedung dengan membawa tandu juga peralatan medis lainnya. Setelah beberapa lama akhirnya merekapun keluar dengan tandu yang diisi oleh seorang lelaki dewasa dengan pisau dapur yang menancap di dada kirinya. Lumuran darah mengalir deras disekujur tubuh lelaki itu.
Tak lama kemudian tandu itu diikuti oleh seorang wanita separuh baya dengan borgol di tangannya, ia dijaga ketat oleh beberapa orang polisi. Saat itu dengan wajah yang tertunduk juga mata yang tertutup sebagian poni rambut, tersirat manis senyum kepuasan dari wajah wanita itu. Wajah itu menyimpan seribu bahasa, namun ia uraikan hanya dengan sebuah senyuman. Senyuman itu mewakili rasa yang mungkin selama ini dia pendam dalam hatinya. Hingga rasa itu tak bisa ia bendung lagi dan berujung pada sebuah tandu mobil ambulans. Ironi!


Setelah pekerjaan polisi dan para petugas rumah sakit itu selesai dan berlalu dari pandanganku, keluar seorang anak kecil dari dalam gedung sambil membawa sebuah tas ransel kecil dipunggungnya. 
Anak kecil itu adalah anak yang sering ditindas oleh para berandalan, yang pernah aku tolong malam itu
Di depan pintu gedung ia terdiam. Dengan wajah tanpa ekspresi, dia menoleh ke arahku menatapku lalu pergi. Anak itu adalah putra dari pasangan suami istri yang sering bertengkar di gedung sebelah, dengan akhir yang menyedihkan. 
Wanita mabuk berbaju merah di sebrang jalan melihat anak kecil itu. Dengan langkahnya yang sempoyongan dia mendekat lalu menatap anak itu dengan penuh rasa iba. Ia membelai rambutnya lalu menuntun. Membawa anak itu pergi.

Sungguh.. aku juga ingin sekali menolong anak kecil itu. Mengajaknya hidup bersamaku. Namun apa daya aku pun tak mempunyai jalan untuk pulang. Karena kini. aku hanyalah makhluk tanpa jasad korban keputusasaan hidup, lalu mati bunuh diri sebulan yang lalu. Semua ini karena preman jalanan yang merenggut kehormatanku. Hidupku menjadi hancur semenjak ayah dan ibuku meninggal saat aku berusia 15 tahun. Mereka dibunuh karena kami tidak bisa melunasi hutang-hutang kami kepada seorang rentenir. Mereka merengut nyawa semua keluargaku tepat di depan kedua mata ini! Jika aku tidak melarikan diri, mungkin akupun akan dibunuhnya. Pedih sekali jika aku harus mengingat masa-masa itu.
Heh! Tapi aku sudah membunuh mereka! Membunuh para rentenir itu lalu lari ke kota kecil ini. Tapi kedatanganku ke kota ini, ternyata hanyalah untuk melengkapi kisah nasib burukku. Kehormatanku sebagai seorang wanita dirampas dengan paksa oleh lima orang preman jalanan. Kebencianku semakin MEMBARA. Setelah menjadi pembunuh rentenir dan kelima anak buahnya, lalu... kenapa tidak untuk mengakhiri hidup kelima pemerkosaku?! Sehingga lengkaplah sudah kisah penderitaan ini.


Kucing hitam yang kini menjadi sahabatku berjalan menghampiri, lalu ia duduk manis di sampingku. Meminum soft drink dan membantu anak kecil dengan melempar kaleng bekas itu... terjadi dihari terakhir aku hidup. Semua keasrian malam itu aku lihat kembali di malam ini. Namun dengan sedikit sentuhan polisi dan sirine ambulan. Mungkin... aku akan tetap di sini, di atas gedung usang ini. Menikmati malam dengan taburan kisah anak manusia. Selamanya… Sampai hari itu tiba…



Lalu Ia menghilang, seperti asap yang tersapu angin… ~~~




zinto-exzet




>> read more..

Cerita Roh ~ PART I

"Purnama yang indah, bintang yang bersinar dan cahaya kota yang berkelip, dengan anggun menghiasi suasana kota malam ini. Aku duduk terdiam menikmati angin dingin di atas sebuah gedung usang, di samping kota Totengham. 

Dari atas gedung ini, aku bisa melihat dengan jelas pemandangan kota dimalam hari. Gedung-gedung tinggi dengan cahaya lampu yang berkelip, seakan berlomba untuk mencakar langit. Taman kota, danau, juga sungai-sungai kecil ikut hadir menghiasi. 
Mobil mewah yang berlalu lalang, plang-plang iklan yang berkerlap kerlip, ratusan toko eksklusive dan suara-suara dunia gemerlap, bertaburan di sepanjang jalan. Mereka membaur, memperlihatkan keglamoran dunia atas. 

Namun... 
Di balik semua keindahan itu. 
Di sini. Di atas gedung usang diantara pemukiman kumuh di samping kota Totengham. Aku melihat ratusan kisah anak manusia dengan alur cerita yang berbeda. Semua berbeda. Berbalik dengan kehidupan di seberang kota sana
Disini aku melihat banyak kisah anak manusia malang. 
Ya! Malang. Itulah kata yang tepat bagi mereka.

Seperti saat ini. Di balik sebuah tirai putih, pada sebuah jendela kecil di seberang gedung. Aku melihat bayangan seorang laki-laki dan perempuan yang bergerak saling menunjuk dan mencaci. Memukul dan menendang menjadi hal yang lumrah bagi mereka. 
Dari arah jendela itu, aku juga sering mendengar suara gaduh pecahan piring yang terlempar ke arah dinding atau lantai rumah. Jeritan histeris memilukan tak kalah seringnya aku dengar dari balik tirai itu. Yang aku tahu, mereka adalah sepasang suami istri yang hampir setiap malam, selalu bertengkar mewarnai malam kelam kota ini. Cinta mereka yang dulu menggebu, kini telah terhapus oleh sebuah penghianatan dan berbalik menjadi sebuah Kebencian yang teramat sangat.

Hmm… “Penghianatan…”
Sepertinya.. kata itu sudah menjadi sahabat bagi kisah anak manusia di jaman sekarang ini. Aku yakin, di kota ini terdapat ratusan jendela bertirai putih lainnya, dengan kisah yang serupa
"Heh! Cinta!"

Di sisi lain gedung ini, aku mendengar suara langkah kaki kucing hitam yang sedang sibuk menjelejahi tumpukan sampah. Ia mencari sepotong tulang ikan asin yang mungkin masih tersisa. Setiap malam kucing itu bergelut dengan puluhan tong-tong sampah, kotoran juga bau mereka yang tak sedap. Tapi… walaupun begitu, tong sampah itu adalah sumber makanan baginya. Tong sampah itu adalah tempat tinggal mereka. Para kucing liar. Salah satunya ya kucing hitam yang dekil itu. 

Dia adalah kucing yang kurang beruntung, untuk hidup di dunia yang keras ini. Dia terlahir dengan bulu hitam yang menjijikan. Tidak seperti teman-temannya yang lain yang saat ini sedang melingkar hangat di atas sebuah karpet di depan perapian. Mereka terlahir dengan bulu-bulu indah dan lembut. Mereka selalu menjadi rebutan para manusia. 

Sedangkan kucing hitam itu sendiri… Jangankan dipelihara atau diperebutkan! Untuk melihatnya saja terkadang mereka merasa jijik. Sepertinya semua ini tidak adil. Tapi ya, itulah takdir. Setiap insan yang bernafas memiliki alur hidup yang berbeda, yang mau tidak mau harus mereka perankan. Walau seberapa perih dan pahitnya itu.
Kisah kucing hitam ini, sebenarnya tidak jauh beda dengan kisah kehidupanku. Kami adalah mahluk-mahluk Tuhan yang terbuang.

Perhatianku kembali kepada kucing hitam itu. Sampai dengan saat ini, dia masih disibukan dengan beberapa buntalan kresek hitam di atas tong-tong sampah dangan penutupnya yang penyok. Dia tetap berharap ada sepotong kepala ikan asin yang masih bisa ia makan.
Aku berfikir.
"Heumm…  Kasihan juga kucing jelek itu."

Aku mengambil burger yang tadi aku bawa sebelum aku duduk di atas gedung ini. Lalu aku lempar daging HAM dari burgerku, ke arah si kucing penjelajah itu. Serentak setelah mencium aroma daging ham yang aku lempar. Kucing itu langsung menerjang dan melahapnya dengan penuh nafsu.

Beruntunglah kucing itu masih ada aku yang mau membantu. Namun tidak begitu didalam kehidupanku sebagai seorang manusia. Diduniaku ini tidak ada satupun perkara yang bisa didapat dengan cuma-cuma. Segala sesuatu yang dilakukan pastilah saja ada sebuah pamrih yang terselip dalam berbagai bentuk, sekalipun itu kecil. Atau setidaknya, ya itulah yang terjadi kepada kehidupanku.

Aku meminum soft drink yang tadi aku bawa berserta beberapa makanan lain, untuk menemaniku menikmati suasana malam ini. Saat meminum minuman bertuliskan coca-cola itu, tak sengaja aku melihat Maya si kupu-kupu malam sedang bersama dengan lelaki hidung belang. Mereka sedang bercinta tanpa menutup jendela kecilnya terlebih dahulu. Dari arah jendela kecil itu aku bisa melihat dua sampai tiga lelaki yang berbeda dalam satu malam. Hhmmm… tak heran aku fikir, karena itu adalah profesi yang Maya pilih setelah ia sakit hati karena dikhianati oleh suami yang selama ini ia dewa-dewakan. Maya ingin penderitaannya itu bisa dirasakan juga oleh wanita-wanita lain.

Sebenarnya dulu Maya adalah wanita yang baik dan penurut. Bahkan sifatnya lebih condong kepada wanita shaleh yang berbakti kepada suami. Ia lakukan segalanya bagi sang suami, segala yang suaminya pinta ia sajikan, semua yang membuat suaminya bahagia ia lakukan.
Ya... Setidaknya itulah yang Maya fikir, berfikir bahwa segala yang dia beri itu membuat suaminya bahagia. Namun sepertinya pengabdian Maya ini sama sekali tidak berarti apa-apa bagi suami yang tidak tahu diuntung itu.
Semua pengabdian Maya dibalas dengan penghianatan yang keji. Ia bawa berbagai macam wanita untuk ia gauli di rumahnya sendiri. Bahkan di depan istrinya sendiri. Semua kepedihan itu ia rasakan selama bertahun-tahun. Namun akhirnya Maya menyerah. Dia potong. Dia kalap, lalu pergi dengan membawa organ tubuh penghasil sperma mantan dewanya itu. Maka sejak saat itu Maya jadi berubah.

Kini Maya benci dengan cerita rumah tangga yang harmonis. Namun Maya senang, tersenyum, bahkan tertawa terbahak-bahak, jika ia bisa melihat sebuah pernikahan yang berantakan hingga berakhir dalam sebuah perceraian. Sama seperti apa yang dia alami. Hal itu membuatnya puas! Dan merasa bahwa di dunia ini, bukan hanya dia saja yang merasakan kemalangan itu. 
"Pemikiran yang egois."

Heh! Aku jijik melihat kemesraan Maya dengan para lelaki bertubuh buncit yang mengantri di luar kamarnya. Mereka sungguh tidak beradab. Binatang!

Aku palingkan pandanganku kearah jemuran Ny. Andrew. Ternyata Ny. Andrew sedang mengangkat baju jemuran miliknya. Ditengah malam. 
Ny. Andrew terlihat cantik dengan baju tidur berwarna merah kembang-kembang. Roll rambut menggulung rapi dikepalanya. Sebatang rokok mengepul deras diujung bibirnya. Mulutnya berkomat kamit. Sepertinya Ny. Andrew sedang kembali mengoceh kepada suaminya, Tuan Andrew.

Heummm… pasti paman Andrew susah tidur lagi. Beliau mengidap penyakit Insomnia. Hingga ia buat malam menjadi siang untuk tetap stand by di depan Televisi, dan siang ia jadikan malam untuk waktu istirahat. Malam ini paman Andrew kembali mendapat “nyanyian” merdu dari Ny. Andrew yang lagi-lagi menyuruhnya tidur dan melarangnya makan terlalu banyak. Paman Andrew yang sedang santai dengan kaos putih oblong di depan televisi bersama kursi favorit juga acara bola yang ia tonton. Dengan santai   menanggapi merdunya nyanyian Ny. Andrew, dengan diam. Mungkin telinganya sudah terbiasa dengan nyanyian sumbang itu.

Sampah yang berserakan di sekitar paman Andrew bekas makanan yang ia makan, serpihan snack di mulut dan perutnya yang buncit. Membuat orang lain yang melihat dia bisa mendadak kenyang walau tak makan. Sikap paman Andrew ini seringkali membuat Ny. Andrew naik pitam sehingga Ny. Andrew selalu meledak bernyanyi sumbang setiap malam karena kebiasaan paman Andrew yang buruk itu. Jika mendengar sumbangnya ocehan Ny. Andrew kepada Paman, semua orang pasti berfikir. Sepertinya rumah tangga mereka sangat memprihatinkan. Mereka memang terlihat seperti pasangan yang tidak harmonis. Setiap hari Ny. Andrew hanya bisa berceramah kepada suaminya. 
Namun sungguh, sebenarnya dibalik semua ocehan itu, ada palung kasih yang tidak dapat terkikis oleh waktu. Ocehan itu adalah bentuk kasih sayang Ny. Andrew kepada orang yang paling dia cintai. Dan bentuk diamnya Tuan Andrew pun adalah bentuk kasihnya kepada orang yang dia sayangi.

Diusia mereka yang kian senja, mereka tetap saling menjaga cinta mereka dengan saling mengerti dan memaklumi apa yang menjadi kekurangan maupun kelebihan dari pasangannya. Karena di dunia ini, mereka tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Mereka tidak dikaruniai oleh seorang anakpun, dan keluarga mereka tidak mau mengakui mereka sebagai kerabatnya lagi. Terlebih setelah Paman Andrew dan Ny Andrew kawin lari meninggalkan pasangan pernikahan mereka masing-masing, demi memperjuangkan cinta mereka yang    menggema sejak SMA. Mereka berani untuk melakukan hal gila itu demi kasihnya. Kini  mereka hanya hidup berdua di gubug tua penuh cinta dengan damai, hingga malam ini.

Andaikan saja aku bisa mendapat jatah cinta sejati seperti mereka, mungkin aku tidak akan berada di atas gedung ini.

Hiasan malam sungguh unik, dan aneh rasanya jika melihat semua itu diwaktu yang lain. Apalagi jika melihat segerombolan anak muda berandalan yang hobinya memeras teman mereka yang terlihat bodoh. Para berandalan itu berfikir, mereka adalah orang yang paling jago dan layak untuk merampas apa yang teman lainnya miliki. Para berandalan itu melempar seorang anak ke jaring kawat pembatas wilayah tempat sampah. Lalu mereka menyita dengan paksa beberapa lembar uang dan koin dari dalam saku anak kecil itu. 

Aku iba kepada anak yang tertindas itu. Aku lempar kaleng soft drink bekas minumanku yang sudah kosong ke arah para berandalan, lalu memberi sedikit bumbu cekikikan ala hantu. HiHihihihiii…..
Para berandalan kelas monyet itu memang terlihat hebat dalam berkelahi, tapi ternyata dalam suasana seram seperti itu mereka tetap saja lari pontang-panting ketakutan dan meninggalkan anak malang itu sendirian.

Setelah berandalan itu pergi, anak malang tadi melihat ke arahku lalu tersenyum sebagai tanda terima kasih. Aku membalas senyum manis anak itu. Bocah kecil itu lalu masuk ke dalam sebuah gedung rumah susun yang letaknya berada tepat di sebelah gedung ini.

Hmmm…. Aku bosan, melihat alur cerita mereka yang setiap harinya tidak pernah ada perubahan. Hanya terperangkap dalam kehidupan tanpa cahaya. Tapi sekarang aku tahu, ternyata mereka lebih tegar menghadapi kerasnya kehidupan ini dibanding denganku. 

Aku bosan dengan bekunya angin malam, bisingnya deruan mesin, dengusan para anjing liar, bulan yang bulat, matahari yang panas. Aku bosan dengan kepala ini, otak dan cairan yang ada didalamnya, juga nafas yang memompa tiada henti. Cape! Letih dengan bayang kengiluan dipangkal paha, benci dengan bau darah kering, lelah dengan mimpi buruk yang tiada berujung. 
Dan akupun menyerah...
Lantai dasar gedung tua, saksi dari kehidupan para anak manusia ini menjadi alas empuk bagi tubuhku di malam purnama ini. 

To be continue.....


>> read more..

Lelahku..


























"Tentu pak, segera akan kami perbaiki." Ujarku kepada 10 manusia berbaju loreng, bermata merah, memakai baret. TEGANG. Otakku lemas karena diperas untuk menaklukan hati mereka yang panas.
Mereka Komplain, dan ini bagian dari pekerjaanku.
#Hendak menarik nafas

Angin berhembus.
Melodi Handphone.
"Hallo"
"Bu! Tagihan saya kapan bisa cairnya? Ini kan sudah sebulan dari surat penagihan saya! Ko ga keluar-keluar sih duitnya?! Jangan-jangan pada dimakan ini sama orang-orang kantornya yak?!"
"Astaghfirullahhaladzim ibu, tidak pernah sedikitpun kami berfikir seperti itu. Maaf atas keterlambatannya ibu karena~~~"
"Ya sudah! saya tunggu kabar secepatnya!"
Tut tut tut...
#Hendak menarik nafas

Angin belum berhenti berhembus.
"Bu, ada telepon dari rumah." Rekan memberikan gagang telepon hitam, sedikit minyak ditepi.
"Hallo..."
"Assalamuallaikum Teh, nanti hari sabtu harus~~~" (Waalaikumsallam)
"Oh gitu... Berapa?" Menutup mata dalam, seraya mencubit ujung dahi dipangkal hidung..
"Sekitar~~~"
"Ya udah, secepatnya nanti dikirim. Semoga ada rejekinya. Mohon do'anya ya ma."
"Tentu, Sehat ya nak."
"Iya ma.."
#Hendak menarik nafas

"Bu mau sekalian dibawakan buku ini kerumah?" Menunjuk buku bertulis 'kas'.
"Iya, makasih ya."

Berjalan menuju rumah. Setapak demi setapak yang berat. Seperti ada ribuan ton batu yang menempel di kakiku hingga aku sulit untuk melangkah, bahkan kemanapun aku pergi.

Membuka sepatu, menyimpan tas juga beberapa buku diatas meja kaca lalu duduk diatas kursi sofa hijau. Bersandar. Membuka file handphone. Mengecek panggilan masuk, berharap nama itu terpajang namun tiada. Membuka pesan masuk, nama yang sangat dinanti tak muncul di list atas inboxku. Aku scroll ke bawah. dan aku mendapatkan namanya, aku buka. Tanggal 31 dan sekarang tanggal 7. Seminggu yang lalu ia terakhir mengirim pesan kepadaku. Aku tutup. Aku masuk membuka list Panggilan Keluar. Namanya hadir dilist teratas dengan tanda  kurung berisi angka sepuluh (10), pada hari ini namun failled. Tidak diangkat.
#Akhirnya Aku Menarik Nafas Panjang dan Dalam.

"HHHHHMMMM!"

Menutup mata, hanphone pun tergeletak.

"Apa? Kenapa? Dimana?" Ribuan kata hinggap dikepala.
"Kuat! Aku kuat!"

Aku terpejam sejenak. Terjaga. Lalu kembali kepada alur kegiatanku, mandi, makan hingga tubuh ini berakhir diatas tempat tidur dengan seragam tidur, piama.
Hari gelap dan semakin menggelap.
Pekat...
Aku menarik handphone. Mencari namanya. Hendak menekan tombol hijau namun aku urungkan.
Aku tebas pikiranku dan aku ter..........
                                       le
                                             e
                                                .
                                               .
                                          la
                                             .                                         
                                               .
                                             .
                                          p
                                       .
                                      .
                                        .







>> read more..

APA?!


BENCI!
Namun entah apa yang aku benci?!
Tapi semua wajah manusia, terlihat seperti kambing di layar kacamataku


KESAL!
Tapi pada siapa?!
Aku pun tak tahu
Tapi meja, kursi dan seisi rumah melambai-lambai, menanti untuk aku hancurkan


SEDIH!
Namun apa yang aku tangisi?!
Tapi air mataku tak hentinya mengalir


GUNDAH!
Namun apa yang aku khawatirkan?!
Tapi aku tidak mau duduk diam manis di atas kursi membaca koran pagi
Aku terus berjalan ke kanan, ke kiri, memutar, layaknya seorang bapak yang gusar menuggu kelahiran anaknya


BINGUNG!
Dan apa yang aku pertanyakan dari hal kosong yang hadir dalam hidupku?!
Kosong tetaplah tidak berisi  


PERGI!
Ujar lidahku
Namun hati tak mau melepaskan tangannya dari genggaman


Rasa yang tidak pernah ada istilahnya
Dikala hati benci, sedih dan perih namun tak tahu penyebabnya


Entah apa yang sebenarnya terjadi pada bumi hati ini
Tapi Dunia ini jadi terlihat dengan judul ~F~ 


"Dimana sebenarnya aku berada? Katakan! Sehingga aku bisa melanjutkan alur hidupku, tanpa harus terus menelan kata ~TAK JELAS~" 


Rintih...

>> read more..

DIAM!!!



Aku, buku, pensil, udara. Aku mencoba menumpahkan imajinasiku diatas kertas yang judulnya putih. Hanya judul. Namun tidak benar putih yang kulihat. Warnanya cream, karena buku itu sudah tua, sudut-sudut bukunya pun sudah kriting dan bau kutu. Aku mau menulis, tapi riuh suara kendaraan yang berjarak puluhan kilometer masih terdengar. Aku mencoba menyentuhkan pensil hitamku ke atas kertas. Namun ia tak mau bergerak, tertahan oleh suara cempreng para wanita bersanggul mocong membawa keranjang di sebuah tempat yang dinamakan pasar. Tapi itu puluhan kilometer jaraknya dari tempat aku bernafas, namun masih memekakan telingaku. Aku ingin membuat rangkaian hurup, namun gendang ini tak mau berhenti mendengungkan suara kisruh para sopir angkot di terminal yang ada ratusan kilo meter dari tempat aku bersila. Suara langkah kaki, suara angin, tangisan orok, kipas, jangkrik, kodok, dusta, kebohongan, jerit kelaparan, rintih kesengsaraan, tawa kepuasan! Semua Hadir diTelingaku!!! Ingin rasanya melepas telinga ini sejenak sehingga aku bisa tenang. Hanya mendengar lantunan suara hatiku yang sepi dan aku tumpah ruahkan ke atas kertas usang ini. Rasanya tak banyak yang aku pinta dari mereka, hanya...........................................................................................



DIAM!!!






>> read more..

Tangan yang terlepas


Gelap. Serat cahaya merayap, namun buram. Membuka setengah. Masih tetap buram. Tiga detik berlalu akhirnya semua terlihat. Ada cahaya, namun tatapan tetap setia pada buram bahkan berair.
Saat satu detik dalam proses membuka mata, gelombang otak langsung merespon kata 'satu tahun'. Kata yang terngiang di sepanjang malam seperti dengungan lalat di atas sebuah roti busuk. Gelombang itu memicu air di pelupuk mata. Tak tahan dengan kuatnya gelombang, air suci itupun terpaksa keluar dan menutupi pandangan di dua detik kemudian. 
Pupil ini tak dapat memandang dengan jelas. Sulit kelopak ini untuk terbuka, kembar seperti pintu ruang belakang. Terciprati air sepanjang malam hingga mengembang dan kesat untuk dibuka. Mata ini tak ubahnya seperti sang pintu. Lelah memproduksi air karena tekanan gelombang otak yang terus menerus memicu. Bengkak! 
Detik keempat, detik kelima, air suci itu semakin menggunung disudut mata. Terkoyak lalu mengalir.
Semua ini berpangkal dari organ yang berada di rongga perut sebelah kanan, di bawah diafragma. Merayap tersayat menuju otak, berujung di pelupuk mata dan menyerap di atas tumpukan bulu angsa. 
Terpejam kelopak ini dengan pekat dalam menghapus gunungan air. Terangsang atas rintihan hati yang miskin, mengingat percakapan tadi malam.

"Kemana?" 
"Malay." 
"Lama?" 
"Satu tahun." 
"Satu tahun?! 12 Bulan?! Ahh bohong, paling juga Januari balik lalu kau panggil itu sebagai satu tahun. Sekarang kan November." 
"365 hari sayang."

Bumi serasa berbalik, kakiku berada di atas, dan kepalaku menyentuh bumi. Tersorot kepada mataku dan semua tiba-tiba menjauh. Kau menjauh. 

Ini KARMAku. 
Disebuah senja dulu.

"Itu tantangan bagi kedewasaan yang Tuhan tuntut dari mu dan pasanganmu, dik. Kau tidak boleh merajuk membuat dia jadi khawatir dan tidak tenang untuk pergi. Dia harus fokus terhadap pekerjannya. Toh semua itu untuk masa depanmu juga." 
"Tapi ka, ini berat! Dia harus dimutasi ke luar kota sampai waktu yang tidak ditentukan. Nanti kami akan jauh, berat ka.." 
"Kan masih ada YM, kalian masih bisa berkomunikasi nampang-nampang ketemu di webcamp. Cinta Streaming dari pada putus, lebih sakit mana?! Ini ujian bagi hubungan kalian. Jika kalian berdua bisa melalui ini semua, jamin deh tuh, cinta kalian bakalan awet sampe mati." 
"Iya sampe mati, karena aku bunuh diri, melihat dia pas balik lagi ke Bandung udah gandeng cewek lain."
"Hush! Sekate-kate kamu ngomong,! Ga boleh gitu! Makanya dari sekarang tumbuhkan rasa percaya kalian. Buat sebuah komitmen perjanjian, antara hati kalian atas nama cinta." 
"Janji bisa diucap ka, tapi hati kan ga bisa ngomong." 
"Satu prinsip yang harus kau yakini dik, bahwa Tuhan telah menuliskan siapa teman hidup kita di Lauhul Mahfuz yang lambat laun pasti akan Dia tunjukan. Sesungguhnya kau tak usah lah khawatir. Jika kau merasa dirimu baik terhadap Tuhan dan kehidupan, maka alam pun akan memberikan yang terbaik kepadamu. Jika memang benar kau baik, dan dia adalah yang terbaik bagimu pemberian Tuhan. Maka walau kalian terpisah oleh 7 galaksi sekalipun, semua akan terasa seperti tujuh jengkal. Selalu dekat juga percaya dan saling menjaga. Kau harus yakini itu. Sabar. Yakin dan berdoalah bahwa semua ini adalah yang terbaik. Ingat jika kau ikhlas, tunggu hadiah besar yang akan Tuhan berikan kepadamu. Hmmm.... Gitu aja ko REPOT!" 
"..." 

Itu adalah percakapan aku dan adiku. Namun sekarang, itu adalah aku dengan diriku sendiri. 

Fiksi by Cory Senjaya

zinto-exzet
>> read more..

NERAKA yang kau untai dari telapak SURGA


Pernahkah kau melihat seorang anak yang dengan sengaja menyakiti hati ibunya? 
Sehingga ibunya mengatakan "PERIH" dan BERLINANGAN AIR MATA, berISTIGHFAR di atas sebuah Sejadah? 

Pernah
 

Lalu, kenapa kau tidak tertawa? 

Apa yang harus aku tertawakan?!
 

Hah! kau sama bodohnya! 
Apakah kau tidak melihat?! 
Wajah anak itu berubah menjadi KELEDAI bertuliskan BODOH di dahinya?
Dan apakah kau tidak melihat?! 
Malaikat sedang menuliskan kata NERAKA di halaman masa depan anak itu?
Apakah kau tidak melihat?! 
Berjubel setan sedang menemani anak itu seperti gula yang hendak ditebar lalu diserang segerombolan semut lapar? 

Buka Matamu Kawan! 
Belalakan! 
Atau haruskah aku bantu dengan mencokel matamu keluar agar kau bisa melihat betapa rendahnya anak itu?
 
Dia sedang berjalan di bawah telapak kaki anjing liar! 
Mereka benar-benar tidak tahu malu! 

Aku berteriak kepada mereka! 

Hey Keledai Berponi! 
Ingatkah darah siapa yang kau hisap sehingga kau bisa bernafas seperti sekarang ini?! 
Darimana darah itu?! 
Bisakah kau membayar darah itu?! 
Bisakah kau membayar nyawa yang sudah dipertaruhkan untuk mengeluarkan anak bodoh sepertimu?! 
Ingatkah semua perjuangannya ketika kau mengeluarkan hal yang paling rendah di bokong busukmu itu?! 

Wanita yang kau caci dan kau sakiti itu dengan ikhlas, 

dengan senyum, diatas lalat hijau membersihkan kotoran mu! 
Bahkan ketika dia makan, kau tetap melakukannya?! 
Tak jarang, tanpa sadar dia memakannya! 
Memakan kotoranmu!!! 
Lalu dengan sadarmu kau melahirkan hati busuk untuk membuat dia menangis?! 
Apa lagi namanya selain 'kau tidak lebih rendah dari binatang penjaga babi-babi itu?!' 
Kau RENDAH! RENDAH! RENDAH! RENDAH! 


MAKA! Mintalah selagi kau bisa meminta AMPUN! 
Jangan sia-siakan waktumu sebelum semuanya terlambat 
Sebelum kau mati dengan penyesalan
Hanya menangisi batu nisan yang tidak pernah bisa berkata, 
"Aku mengampunimu wahai anakku." sambil menitikan air mata dan mencium keningmu 

Sadari itu wahai Calon BATU!

zinto-exzet
>> read more..