DIAM!!!



Aku, buku, pensil, udara. Aku mencoba menumpahkan imajinasiku diatas kertas yang judulnya putih. Hanya judul. Namun tidak benar putih yang kulihat. Warnanya cream, karena buku itu sudah tua, sudut-sudut bukunya pun sudah kriting dan bau kutu. Aku mau menulis, tapi riuh suara kendaraan yang berjarak puluhan kilometer masih terdengar. Aku mencoba menyentuhkan pensil hitamku ke atas kertas. Namun ia tak mau bergerak, tertahan oleh suara cempreng para wanita bersanggul mocong membawa keranjang di sebuah tempat yang dinamakan pasar. Tapi itu puluhan kilometer jaraknya dari tempat aku bernafas, namun masih memekakan telingaku. Aku ingin membuat rangkaian hurup, namun gendang ini tak mau berhenti mendengungkan suara kisruh para sopir angkot di terminal yang ada ratusan kilo meter dari tempat aku bersila. Suara langkah kaki, suara angin, tangisan orok, kipas, jangkrik, kodok, dusta, kebohongan, jerit kelaparan, rintih kesengsaraan, tawa kepuasan! Semua Hadir diTelingaku!!! Ingin rasanya melepas telinga ini sejenak sehingga aku bisa tenang. Hanya mendengar lantunan suara hatiku yang sepi dan aku tumpah ruahkan ke atas kertas usang ini. Rasanya tak banyak yang aku pinta dari mereka, hanya...........................................................................................



DIAM!!!