Tangan yang terlepas


Gelap. Serat cahaya merayap, namun buram. Membuka setengah. Masih tetap buram. Tiga detik berlalu akhirnya semua terlihat. Ada cahaya, namun tatapan tetap setia pada buram bahkan berair.
Saat satu detik dalam proses membuka mata, gelombang otak langsung merespon kata 'satu tahun'. Kata yang terngiang di sepanjang malam seperti dengungan lalat di atas sebuah roti busuk. Gelombang itu memicu air di pelupuk mata. Tak tahan dengan kuatnya gelombang, air suci itupun terpaksa keluar dan menutupi pandangan di dua detik kemudian. 
Pupil ini tak dapat memandang dengan jelas. Sulit kelopak ini untuk terbuka, kembar seperti pintu ruang belakang. Terciprati air sepanjang malam hingga mengembang dan kesat untuk dibuka. Mata ini tak ubahnya seperti sang pintu. Lelah memproduksi air karena tekanan gelombang otak yang terus menerus memicu. Bengkak! 
Detik keempat, detik kelima, air suci itu semakin menggunung disudut mata. Terkoyak lalu mengalir.
Semua ini berpangkal dari organ yang berada di rongga perut sebelah kanan, di bawah diafragma. Merayap tersayat menuju otak, berujung di pelupuk mata dan menyerap di atas tumpukan bulu angsa. 
Terpejam kelopak ini dengan pekat dalam menghapus gunungan air. Terangsang atas rintihan hati yang miskin, mengingat percakapan tadi malam.

"Kemana?" 
"Malay." 
"Lama?" 
"Satu tahun." 
"Satu tahun?! 12 Bulan?! Ahh bohong, paling juga Januari balik lalu kau panggil itu sebagai satu tahun. Sekarang kan November." 
"365 hari sayang."

Bumi serasa berbalik, kakiku berada di atas, dan kepalaku menyentuh bumi. Tersorot kepada mataku dan semua tiba-tiba menjauh. Kau menjauh. 

Ini KARMAku. 
Disebuah senja dulu.

"Itu tantangan bagi kedewasaan yang Tuhan tuntut dari mu dan pasanganmu, dik. Kau tidak boleh merajuk membuat dia jadi khawatir dan tidak tenang untuk pergi. Dia harus fokus terhadap pekerjannya. Toh semua itu untuk masa depanmu juga." 
"Tapi ka, ini berat! Dia harus dimutasi ke luar kota sampai waktu yang tidak ditentukan. Nanti kami akan jauh, berat ka.." 
"Kan masih ada YM, kalian masih bisa berkomunikasi nampang-nampang ketemu di webcamp. Cinta Streaming dari pada putus, lebih sakit mana?! Ini ujian bagi hubungan kalian. Jika kalian berdua bisa melalui ini semua, jamin deh tuh, cinta kalian bakalan awet sampe mati." 
"Iya sampe mati, karena aku bunuh diri, melihat dia pas balik lagi ke Bandung udah gandeng cewek lain."
"Hush! Sekate-kate kamu ngomong,! Ga boleh gitu! Makanya dari sekarang tumbuhkan rasa percaya kalian. Buat sebuah komitmen perjanjian, antara hati kalian atas nama cinta." 
"Janji bisa diucap ka, tapi hati kan ga bisa ngomong." 
"Satu prinsip yang harus kau yakini dik, bahwa Tuhan telah menuliskan siapa teman hidup kita di Lauhul Mahfuz yang lambat laun pasti akan Dia tunjukan. Sesungguhnya kau tak usah lah khawatir. Jika kau merasa dirimu baik terhadap Tuhan dan kehidupan, maka alam pun akan memberikan yang terbaik kepadamu. Jika memang benar kau baik, dan dia adalah yang terbaik bagimu pemberian Tuhan. Maka walau kalian terpisah oleh 7 galaksi sekalipun, semua akan terasa seperti tujuh jengkal. Selalu dekat juga percaya dan saling menjaga. Kau harus yakini itu. Sabar. Yakin dan berdoalah bahwa semua ini adalah yang terbaik. Ingat jika kau ikhlas, tunggu hadiah besar yang akan Tuhan berikan kepadamu. Hmmm.... Gitu aja ko REPOT!" 
"..." 

Itu adalah percakapan aku dan adiku. Namun sekarang, itu adalah aku dengan diriku sendiri. 

Fiksi by Cory Senjaya

zinto-exzet